AIR MATA ROSULULLAH (SAW)


★★★★★
AIR MATA ROSULULLAH
(SAW) Tiba-tiba dari
luar pintu terdengar
seorang yang berseru
mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?"
tanyanya. Tapi Fatimah
tidak mengizinkannya
masuk, "Maafkanlah,
ayahku sedang demam,"
kata Fatimah yang
membalikkan badan dan
menutup pintu.
Kemudian ia kembali
menemani ayahnya
yang ternyata sudah
membuka mata dan
bertanya pada Fatimah,
"Siapakah itu wahai
anakku?" "Tak tahulah
ayahku, orang
sepertinya baru sekali
ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah
menatap puterinya itu
dengan pandangan yang
menggetarkan. Seolah-
olah bahagian demi
bahagian wajah
anaknya itu hendak
dikenang. "Ketahuilah,
dialah yang
menghapuskan
kenikmatan sementara,
dialah yang
memisahkan pertemuan
di dunia. Dialah
malaikatul maut," kata
Rasulullah, Fatimah pun
menahan ledakkan
tangisnya. Malaikat
maut datang
menghampiri, tapi
Rasulullah menanyakan
kenapa Jibril tidak ikut
sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah
Jibril yang sebelumnya
sudah bersiap di atas
langit dunia menyambut
ruh kekasih Allah dan
penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa
hakku nanti di hadapan
Allah?" Tanya
Rasululllah dengan
suara yang amat lemah.
"Pintu- pintu langit
telah terbuka, para
malaikat telah menanti
ruhmu. Semua syurga
terbuka lebar menanti
kedatanganmu," kata
Jibril. Tapi itu ternyata
tidak membuatkan
Rasulullah lega,
matanya masih penuh
kecemasan. "Engkau
tidak senang
mendengar khabar ini?"
Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku
bagaimana nasib
umatku kelak?" "Jangan
khawatir, wahai Rasul
Allah, aku pernah
mendengar Allah
berfirman kepadaku:
'Kuharamkan syurga
bagi siapa saja, kecuali
umat Muhammad telah
berada di dalamnya,"
kata Jibril. Detik-detik
semakin dekat, saatnya
Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah
ditarik. Nampak seluruh
tubuh Rasulullah
bersimbah peluh, urat-
urat lehernya
menegang. "Jibril,
betapa sakit sakaratul
maut ini." Perlahan
Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali
yang di sampingnya
menunduk semakin
dalam dan Jibril
memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku,
hingga kau palingkan
wajahmu Jibril?" Tanya
Rasulullah pada
Malaikat pengantar
wahyu itu. "Siapakah
yang sanggup, melihat
kekasih Allah direnggut
ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian
terdengar Rasulullah
mengaduh, karena sakit
yang tidak tertahankan
lagi. "Ya Allah, dahsyat
nian maut ini, timpakan
saja semua siksa maut
ini kepadaku, jangan
pada umatku. "Badan
Rasulullah mulai ding!
in, kaki dan dadanya
sudah tidak bergerak
lagi. Bibirnya bergetar
seakan hendak
membisikkan sesuatu,
Ali segera mendekatkan
telinganya. "Uushiikum
bis shalati, wa maa
malakat aimanuku -
peliharalah shalat dan
peliharalah orang-orang
lemah di antaramu." Di
luar pintu tangis mulai
terdengar bersahutan,
sahabat saling
berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di
wajahnya, dan Ali
kembali mendekatkan
telinganya ke bibir
Rasulullah yang mulai
kebiruan. "Ummatii,
ummatii, ummatiii?" -
"Umatku, umatku,
umatku" Dan,
berakhirlah hidup
manusia mulia yang
memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita
mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala
Muhammad wa baarik
wa salim 'alaihi Betapa
cintanya Rasulullah
kepada kita. NB:
Kirimkan kepada
sahabat-sahabat muslim
lainnya agar timbul
kesadaran untuk
mencintai Allah dan
RasulNya, seperti Allah
dan Rasulnya mencintai
kita. Karena
sesungguhnya selain
daripada itu hanyalah
fana belaka. Amin...
Usah gelisah apabila
dibenci manusia karena
masih banyak yang
menyayangi mu di dunia
tapi gelisahlah apabila
dibenci Allah karena
tiada lagi yang mengasihimu di akhirat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "AIR MATA ROSULULLAH (SAW)"

Post a Comment

SilaHkan COMENT!