* BERJANJI MENIKAH DENGAN SEORANG PEREMPUAN


★★★★★
Assalamualaikum wr wb
Pak ustadz, saya
seorang
pria 17 tahun dan saat
ini
saya sedang menyukai
seorang perempuan. Di
sekolah saya termasuk
siswa yang berprestasi,
sehingga perasaan suka
saya ini paling tidak
begitu terpengaruh oleh
kehidupan untuk masa
depan. Kami sering
bertemu, karena
kebetulan kami satu
sekolah. Saat itu, saya
pernah mengatakan
kepadanya tentang
perasaan suka saya dan
saya berjanji akan
menikah dengannya
kelak setelah
mempunyai
pekerjaan. dan
perempuan tersebut
bersedia untuk
menunggu saya di
kemudian hari.
pertanyaan saya,
1. Bolehkah saya
berkomitmen seperti
itu ?
2. Apakah boleh seorang
perempuan menunggu
untuk dinikahi kelak ?
3. Bagaimana caranya
untuk mengatur rasa
cinta yang disenangi
Allah ?
Jazakumullah khairun
jaza'
wassalamu'alaikum
wr wb
Abdullah
Gresik
Jawaban:
Assalamu `alaikum Wr.
Wb.
Fenomena yang
seringkali terjadi di
tengah masyarakat
adalah adanya sepasang
kekasih yang memadu
janji untuk saling
memiliki dan nantinya
akan membangun
mahligai rumah tangga.
Hampir di setiap
wilayah
kehidupan kita
mendapati adanya dua
sejoli memadu kasih dan
saling mengikat diri
dengan janji-janji.
Bahkan terkadang hal
yang sama meski tidak
terlalu vulgar, terjadi
juga pada para aktifis
dakwah. Barangkali
karena frekuensi
bertemuan di antara
mereka yang lumayan
sering, sehingga
menimbulkan jenis
perasaan tertentu yang
sulit digambarkan.
Barangkali kondiri ini
agak dilematis. Sebab di
satu sisi mereka paham
bahwa hubungan antara
pria dan wanita itu
terbatas, namun di sisi
lain di dalam jiwa
mereka yang masih
muda
ada perasaan yang
mendorong untuk
tertarik dengan sesama
rekan aktifisnya yang
lain jenis. Interaksi yang
intensif dan tuntutan
dinamika pergerakan
terkadang ikut
menyuburkan perasaan-
perasaan `aneh` itu.
Maka istilah CBSA
terdengar dengan
singkatan Cinta Bersemi
Setelah Aksi. Hubungan
yang awalnya agak
kaku,
tertutup, terhijab mulai
mencair dan terasa
lebih
melegakan. Namun
terkadang ada kasus
dimana keterbukaan itu
tidak hanya berhenti
sampai disitu, lebih jauh
sampai kepada hal-hal
yang lebih pribadi dan
ujung-ujungnya adalah
sebuah janji untuk
nantinya menikah.
Bagaimanakah syairat
Islam memandang
fenomena ini, khususnya
janji antara dua sejoli
untuk menikah ?
Adakah
landasan syar`inya ?
Bisakah hal itu
dibenarkan ?
I. Hukum Berjanji
Berjanji itu harus
ditepati dan melanggar
janji berarti berdosa.
Bukan sekedar berdosa
kepada orang yang kita
janjikan tetapi juga
kepada Allah. Dasar
dari
wajibnya kita
menunaikan janji yang
telah kita berikan
antara
lain adalah :
a. Perintah Allah SWT
dalam Al-Qurân Al-
Karîm.
Allah SWT telah
memerintahkan kepada
setiap muslim untuk
melaksanakan janji-janji
yang pernah diucapkan.
"Dan tepatilah
perjanjian
dengan Allah apabila
kamu berjanji dan
janganlah kamu
membatalkan sumpah-
sumpah itu, sesudah
meneguhkannya,
sedang
kamu telah menjadikan
Allah sebagai saksimu .
Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang
kamu perbuat".(QS. An-
Nahl : 91)
"Dan janganlah kamu
jadikan sumpah-
sumpahmu sebagai alat
penipu di antaramu,
yang
menyebabkan
tergelincir
kaki sesudah kokoh
tegaknya, dan kamu
rasakan kemelaratan
karena kamu
menghalangi dari jalan
Allah; dan bagimu azab
yang besar".(An-Nal :
94)
b. Menunaikan Janji
Adalah Ciri Orang
Beriman.
Allah menyebutkan
dalam surat Al-
Mu`minun tentang ciri-
ciri orang beriman.
Salah
satunya yang paling
utama adalah mereka
yang memelihara
amanat
dan janji yang pernah
diucapkannya.
"Telah Beruntunglah
orang-orang beriman,
yaitu yang …. dan
orang-
orang yang memelihara
amanat-amanat dan
janjinya".(QS. Al-
Mu`minun : 1-6)
c. Ingkar Janji Adalah
Perbuatan Syetan.
Ingkar janji itu
merupakan sifat dan
perbuatan syetan. Dan
mereka menggunakan
janji itu dalam rangka
mengelabuhi manusia
dan menarik mereka ke
dalam kesesatan.
Dengan menjual janji
itu,
maka syetan telah
berhasil menangguk
keuntungan yang
sangat
besar. Karena alih-alih
melaksanakan janjinya,
syetan justru akan
merasakan kenikmatan
manakala manusia
berhasil termakan janji-
janji kosongnya itu.
"Syaitan itu
memberikan
janji-janji kepada
mereka
dan membangkitkan
angan-angan kosong
pada mereka, padahal
syaitan itu tidak
menjanjikan kepada
mereka selain dari
tipuan belaka".(QS. An-
Nisa : 120)
d. Ingkar Janji Adalah
Sifat Bani Israil
Ingkar janji juga
perintah
Allah kepada Bani Israil,
namun sayangnya
perintah itu
dilanggarnya
dan mereka dikenal
sebagai umat yang
terbiasa ingkar janji.
Hal
itu diabadikan di dalam
Al-Quran Al-Karim.
"Hai Bani Israil ,
ingatlah
akan ni`mat-Ku yang
telah Aku anugerahkan
kepadamu, dan
penuhilah janjimu
kepada-Ku , niscaya Aku
penuhi janji-Ku
kepadamu; dan hanya
kepada-Ku-lah kamu
harus takut" .(QS. Al-
Baqarah : 40)
2. Janji Yang Mungkar
Namun janji itu hanya
wajib ditunaikan
manakala berbentuk
sesuatu yang halal dan
makruf. Sebaliknya bila
janji itu adalah sesuatu
yang mungkar, haram,
maksiat atau hal-hal
yang bertentangan
dengan ketentuan
syariat Islam, maka janji
itu adalah janji yang
batil. Hukumnya
menjadi
haram untuk
dilaksanakan.
Misalnya seseorang
berjanji untuk berzina,
minum khamar,
mencuri,
membunuh atau
melakukan kemaksiatan
lainnya, maka janji itu
adalah janji yang
mungkar. Haram
hukumnya bagi seorang
muslim untuk
melaksanakan janjinya
itu. Meski pun ketika
berjanji, dia
mengucapkan nama
Allah SWT atau sampai
bersumpah. Sebab janji
untuk melakukan
kemungkaran itu
hukumnya batal dengan
sendirinya.
Dalam kasus tertentu,
bila seseorang dipaksa
untuk berjanji
melakukan sesuatu
yang
bertentangan dengan
syariat Islam, tidak ada
kewajiban sama sekali
baginya untuk
menunaikannya.
Misalnya, seorang
prajurit muslim dan
disiksa oleh lawan. Lalu
sebagai syarat
pembebasan
hukumannya, dia
dipaksa
berjanji untuk tidak
shalat atau
mengerjakan
perintah agama. Maka
bila siksaan itu terasa
berat baginya, dia
diberi
keringanan untuk
menyatakan janji itu,
namun begitu lepas dari
musuh, dia sama sekali
tidak punya kewajiban
untuk melaksanakan
janjinya itu. Sebab janji
itu dengan sendirinya
sudah gugur.
Dalam kasus Amar bin
Yasir, hal yang sama
juga
terjadi dan Allah SWT
memberikan keringanan
kepadanya untuk
melakukannya.
"Barangsiapa yang kafir
kepada Allah sesudah
dia
beriman , kecuali orang
yang dipaksa kafir
padahal hatinya tetap
tenang dalam beriman ,
akan tetapi orang yang
melapangkan dadanya
untuk kekafiran, maka
kemurkaan Allah
menimpanya dan
baginya
azab yang besar".(QS.
An-Nah; : 106)
II. Janjian Untuk
Menikah
Janji yang diucapkan
oleh
laki-laki yang bukan
mahram dan bukan
dalam status
mengkhitbah itu tidak
mengikat buat seorang
wanita untuk menikah
dengan orang lain atau
menerima khitbah dari
orang lain. Karena itu
baru sekedar janji dan
bukan khitbah.
Jadi di tengah jalan,
wanita itu sha-sah saja
bila menikah dengan
orang lain dengan atau
tanpa alasan apapun.
Kecuali bila anda telah
mengkhitbahnya/
melamarnya secara
syar`i. Karena khitbah
memiliki kekuatan
hukum yang mengikat
calon pengantin wanita.
Sebenarnya dalam Islam
tidak dikenal janji
seperti itu karena
memang tidak memiliki
kekuatan hukum. Jadi
tidak ubahnya seperti
pacaran dan janji-janji
sepasang kekasih yang
kedudukannya tidak
jelas.Janji untuk
menikahi yang dikenal
dalam Islam adalah
khitbah itu sendiri. Ini
adalah sejenis ikatan
meski belum sampai
kepada pernikahan.
Begitu menerima dan
menyetujui suatu
khitbah
dari seorang laki-laki,
maka wanita itu tidak
boleh menerima
lamaran
orang lain. Meski belum
halal, tetapi paling
tidak
sudah berbentuk semi
ikatan. Orang lain tidak
boleh mengajukan
lamaran pada wanita
yang sedang dalam
lamaran.
Menurut hemat kami,
bila memang masih jauh
untuk siap menikah,
sebaiknya anda tidak
usah terlalu memberi
perhatian dalam
masalah
hubungan dengan
wanita
terlebih dahulu.
Apapaun
bentuknya. Dan tidak
perlu membentuk
hubungan khusus
dengan
siapa pun. Nanti pada
saatnya anda siap
berumah-tangga, maka
silahkan ajukan lamaran
kepada wanita yang
menurut anda paling
anda sukai. Jadi lebih
real dan lebih pasti.
Dan ketahuilah bahwa
para wanita umumnya
lebih suka pada sesuatu
yang pasti ketimbang
digantung-gantung
tidak
karuan. Atau diberi
janji-
janji yang tidak jelas
apa
memang mungkin
terlaksana atau hanya
gombalisme belaka.
Wallahu a`lam
Bishshawab
Wassalamu `alaikum
Wr.Wb.
*Sumber : Artikel islami*

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "* BERJANJI MENIKAH DENGAN SEORANG PEREMPUAN"

Post a Comment

SilaHkan COMENT!